Tugas Ilmu Sosial Dasar 2: Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan


Tugas Ilmu Sosial Dasar
Bab IV
Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat  Perkotaan

1. Latar Belakang Penulisan
Seiring dengan berkembangnya zaman, memberikan dampak yang sangat terlihat pada masyarakat khusus nya di nusantara. Dari mulai menyempitnya lahan tempat tinggal hingga susahnya mencari pekerjaan, apalagi di daerah yang masih kurang terjamah oleh tangan pemerintah seperti desa-desa di pelosok negeri, sehingga mengharuskan mereka (masyarakat pedesaan) untuk mencari pekerjaan dan sementara berpindah tempat tinggal ke daerah perkotaan yang umumnya sedang sangat gencar melakukan pembangunan infrastruktur yang memerlukan banyak ide dan tenaga manusia, dan hal ini lah yang menyebabkan masyarakat pedesaan berurbanisasi ke kota.
Seiring berjalan nya waktu, tak sedikit diantara mereka yang berhasil mendapat penghasilan yang layak bahkan bisa dikatakan sukses, hal ini menyebabkan mereka untuk tetap tinggal dan berpindah kependudukan menjadi masyarakat kota misalnya di ibu kota.





2. Pembahasan
2.1 Definisi Masyarakat
Masyarakat berasal dari bahasa inggris yaitu "society"yang berarti "masyarakat", lalu kata society berasal dari bahasa latin yaitu "societas" yang berarti"kawan". Sedangkan masyarakat yang berasal dari bahasa arab yaitu "musyarak".
Pengertian masyarakat terbagi atas dua yaitu pengertian masyarakat dalam arti luas dan pengertian masyarakat dalam arti sempit. Pengertian Masyarakat dalam Arti Luas adalah  keseluruhan hubungan hidup bersama tanpa dengan dibatasi lingkungan, bangsa dan sebagainya. Sedangkan Pengertian Masyarakat dalam Arti Sempit adalah sekelompok individu yang dibatasi oleh golongan, bangsa, teritorial, dan lain sebagainya.
Pengertian Masyarakat secara Sederhana adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi atau bergaul dengan kepentingan yang sama. Terbentuknya masyarakat karna manusia menggunakan perasaan, pikiran dan keinginannya memberikan reaksi dalam lingkungannya.

Pengertian Masyarakat Menurut Definisi Para Ahli


·         Pengertian masyarakat menurut definisi Paul B. Harton, yang mengatakan pendapatnya bahwa pengertian masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama yang cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu.
·         Pengertian masyarakat menurut definisi John J. Macionis adalah orang-orang yang berinteraksi dalam sebuah wilayah tertentu dan memiliki budaya bersama.
·         Pengertian masyarakat menurut definisi Gillin & Gillin mengatakan bahwa pengertian masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang diikat oleh bersamaan.





2.2  Pengertian Masyarakat Pedesaan
Pedesaan atau biasa disebut desa adalah daerah pemukiman penduduk yang sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim, dan air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu.
Persekutuan yang paling kecil dimulai saat manusia primitif mencari makan.  Dari sini, mulai berkembangnya cara bertani yang menyebabkan lahirnya persekutuan hidup permanen  disuatu tempat yang dinamakan desa,kampung, atau babakan.

Dengan sifat kehidupan yang :
a)      Kekeluargaan
b)      Adanya kolektivitas dalam pembagian tanah dan pengerjaannya
c)      Adanya kesatuan eonomis yang memenuhi kebutuhan sendiri


Menurut Paul H. Landis Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri  :
·         Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
·         Ada pertalian perasaan yang sama  tentang kesukaan terhadap kebiasaan
·         Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam

Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi  suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip, yaitu:
a)      Prinsip hubungan kekerabatan (geneologis),
b)      Prinsip hubungan tinggal dekat/teritorial.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa masyarakat pedesaan adalah sekelompok orang yang jumlahnya  kurang dari 2.500 jiwa dan tinggal di suatu daerah yang merupakan pemukiman penduduk yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim, dan air, Atau kehidupan masyarakatnya masih sangat bergantung pada alam.
Dengan ciri-ciri kehidupan  masyarakat dan kebudayaan yang masih asli seperti : tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat , kesenian, kehidupan moral, susila dan lain-lain.




2.2.1 Tipe atau Karakteristik Masyarakat Pedesaan
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi yang berjudul “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mempunyai ciri-ciri  :
·         Afektifitas, yang hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan  tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain  dan menolongnya tanpa pamrih.
·         Orientasi kolektif,  sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
·         Partikularisme,  pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
·         Askripsi,  yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).



2.3 Masyarakat Perkotaan

Macam-macam pengertian kota menuruti pendapat beberapa ahli :
·         Wirth : Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
·         Max Weber : Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.
·         Dwigth Sanderson : Kota ialah tempat yang berpenduduk 10.000 orang atau lebih.

Masyarakat perkotaan sering disebut urban Community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya. Kondisi-kondisi yang diperlukan bagi suatu kota (urban/city) ada enam :
(1) pembagian kerja dalam spesialisasi yang jelas
(2) organisasi sosial lebih berdasarkan pekerjaan dan klas sosial dari pada kekeluargaan
(3) lembaga pemerintahan lebih berdasarkan teritorium daripada kekeluargaan
(4) suatu sistem perdagangan dan pertukangan
(5) mempunyai sarana komunikasi dan dokumentasi;
(6) berteknologi yang rasional.
Makin besar kota makin tegas ciri-ciri tersebut.
Masyarakat kota adalah suatu kelompok terorganisasi yang tinggal secara kompak di wilayah tertentu dan memiliki derajat interkomunikasi yang tinggi. Sehubungan ini Borgardus menunjuk pada latar belakang yang berupa kegiatan berdagang dan berindustri sebagai yang pokok.
Para warganya menempati suatu lingkungan buatan di mana teknologi membantu segala tata cara kerjanya. Masyarakat kota menarik karena pemakaian kendaraan bermotornya, keserbatergesa-gesaanya dan gangguan jiwa yang dideritanya. Masyarakat kota acap kali meragukan sikap hemat, percaya kepada diri sendiri dan kepuasan kerja merupakan dasar dar kesejahteraan bangsa.
Perkembangan masyarakat kota didorong oleh banyak faktor. Di antaranya;
a.       Pertambahan penduduk kota itu sendiri sudah menambah gengsi kepada warganya. Kontrak sosial antara manusianya yang beraneka itu bersifat mengharuskan. Tanpa itu manusia akan merasa hidup terpencil.
b.      Penemuan mesin dan tenaga uap ditambah lagi dengan penggunaan modal besar dalam usaha dagang dan industri menciptakan pabrik-pabrik besar. Ini menarik banyak tenaga kerja dari daerah pertanian melalui tingginya upah dan aneka jaminan sosial. Akhirnya produksi massal dari industri kota itu sendiri mendorong perkembangan kota lanjut.
c.       Peranan transportasi dan komunikasi besar di kota. Dua itu yang menjamin kekompakan kehidupan masyarakat kota. Jika itu macet maka segala kegiatan akan lumpuh.
d.      Kesempatan untuk maju dan berhasil lebih banyak tersedia di kota dibandingkan dengan di desa.
e.       Kota menawarkan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang cukup sebagai sarana kenaikan jenjang sosial. Ilmu dan seni memenuhi kebutuhan manusia.
f.       Pengisian waktu senggang tersedia cukup, demikian pula berabagai hiburan dan olahraga.

2.3.1 Ciri atau Karateristik Masyarakat Perkotaan Menurut Para Ahli
Talcott Parsons.  mendeskripsikan tipe masyarakat kota yang diantaranya memiliki ciri:
a.       Netral Afektif, Masyarakat Kota Memperlihatkan sifat yang lebih mementingkan Rasionalias dan sifat rasionalitas ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
b.      Orientasi Diri, Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik
Universalisme, Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk universalisme.
c.       Prestasi, Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian dan keahlian yang dimilikinya.
d.      Heterogenitas, Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.
Menurut Ramdani,  Ada beberapa ciri dan pola yang menonjol pada masyarakat kota yaitu:
a.       Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
b.      Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Hal yang penting adalah manusia perorangan atau individu.
c.       Pembagian kerja di antara warga-warga kota lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
d.      Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
e.       Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
f.       Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
g.      Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.


Menurut Soejono Soekanto,  Masyarakat Kota memiliki karakteristik atau ciri khas sebagai berikut:
a.       Heterogen
b.      Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
c.       Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
d.      Mobilitas sosial, sehingga dinamik
e.       Kebauran dan diversifikasi kultural
f.       Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular
g.      Individualisme




2.3 Perbedaan masyarakata pedesaan dengan perkotaan
1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
Masyarakat pedesaan berhubungan kuat dengan alam disebabkan oleh lokasi geografisnya di daerah desa. Sedangkan, penduduk kota kehidupannya bebas dari realitas alam.
2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Kebanyakan mata pencaharian masyarakat desa adalah bertani. Di masyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi terspesialisasi atau spesialisasi misal menjdai manajer suatu perusahaan.
3. Kepadatan Penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat perkotaan.
4. Homogenitas dan Heterogenitas
Homogenitas masyarakat pedesaan lebih terlihat misal pada ciri-ciri sosial dan psikologi,bahasa,kepercayaan,adat-istiadat, dan perilaku. Sedangkan di kota, masyarakatnya heterogen, terdiri dari orang-orang dengan macam-macam subkultur,dan kesenangan, kebudayaan, juga mata pemcaharian.
5. Interaksi Sosial
a) Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah.
b) Perbedaan kuantitatif dan kualitatif : Penduduk kota lebih sering kontak, tetapi cenderung formal sepintas lalu, dan tidak bersifat pribadi (impersonal), tetapi mengenai tugas, atau kepentingan lain. Sedangkan di desa, kontak sosial terjadi lebih banyak dengan tatap muka, ramah-tamah (informal), dan pribadi.
2.4 Hubungan Kota dan Desa
a) Relasi kota dengan desa dapat terorganisasi melalui pasar. Di pasar terjadi tukar menukar bahan menjaid produksi khusus desa-desa di pasar daerah. Organisasi pasar juga dpat dicontohkan sebagai masyarakat desa sebagai pemasok bahan pokok untung diolah menjadi produk makanan yang bervariasi karena di desa sebagian besar masrakatnya ber mata pencaharian sebagai petani, yang hasilnya banyak di beli atau di jual orang masyarakat perkotaan.
b) Dalam hal keamanan, desa mempunyai otonomi luas untuk urusan dalam, kalau terpaksa baru minta bantuan dari kota.
c) Di bidang kebudayaan dan keagamaan, di desa terdapat tokoh agama termasyhur, orang kota terpelajar, spesialis-spesialis, sering mengabadikannya dengan menyusun suatu sistem dan menjabarkannya. Sehingga adanya timbal balik antar tradisi.
Kedudukan masyarakat desa merupakan bagian dari perdaban, yang meyuplai makanan untuk mendukung kelas penguasa politik dan keagamaan, serta kaum terpelajar (elite) dari suatu tradisi besar.




Daftar Pustaka
Soelaeman Munandar, “Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial”, PT Refika Aditama, Bandung, 2000, hal 132-143.

www.gunadarma.ac.id

Komentar

Postingan Populer